6 Nov 2026
Ketika Surplus Pangan menjadi Emas : Potensi Larva Maggot Dalam Ekonomi Sirkular
Aufa
Tanggal Publish 6 Nov 2026

Ketika Makanan Kehilangan Nilainya :
Pernahkah kita berpikir bahwa di balik makanan yang terbuang tersimpan nilai yang belum sepenuhnya hilang? Sisa nasi di meja makan, sayuran dan buah yang membusuk di pasar, atau makanan berlebih dari restoran atau hotel seringkali terbuang dalam setiap harinya. Padahal, setiap bahan pangan telah melalui berbagai proses panjang sebagai bentuk penambahan nilai sebelum sampai ke tangan konsumen. Ada lahan pertanian, air, energi, tenaga kerja, hingga biaya distribusi yang terlibat di dalamnya. Ketika makanan berakhir sebagai sampah, bukan hanya menghilangkan nilai konsumsi, tetapi juga menyia-nyiakan sumber daya yang telah digunakan selama proses produksi.
Persoalan ini menjadi masalah yang krusial di Indonesia. Menurut Bappenas (2021), timbulan food loss and waste atau FLW di Indonesia mencapai 115-184 kilogram per kapita setiap tahunnya pada 2000 – 2019. Tidak hanya kehilangan nilai pangan di angka yang begitu besar, tetapi juga dari sisi ekonomi yang menimbulkan kerugian sebesar Rp 213-551 triliun per tahun pada periode pengamatan. Angka ini menunjukkan bahwa permasalahan ini bukanlah hal sepele yang merujuk pada satu aspek kehidupan saja, melainkan juga menunjukkan besarnya nilai ekonomi yang hilang akibat pangan yang tidak dimanfaatkan
Tidak berhenti pada kerugian ekonomi saja, sisa pangan yang tidak dikelola dengan baik juga menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, seperti pemanasan global. Hal ini terjadi ketika sisa pangan dibuang ke tempat pembuangan akhir yang mengakibatkan penumpukan bahan organik. Dalam kondisi minim oksigen, bahan organik akan mengalami penguraian yang menghasilkan gas metana. Akumulasi gas metana inilah yang nantinya akan berkontribusi terhadap pemanasan global. Kajian Bappenas (2021) memperkirakan emisi rumah kaca berkaitan dengan FLW di Indonesia mencapai 1.702,9 megaton CO₂- ekuivalen selama periode 2000-2019. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sisa pangan berkontribusi terhadap peningkatan gas emisi rumah kaca dan tekanan terhadap lingkungan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan pengelolaan sampah yang hanya mengandalkan pada pengumpulan dan pembuangan sampah pada tempat pembuangan akhir tidak cukup untuk menjadi jawaban atas persoalan yang telah terjadi di masyarakat. Perlu dilakukan kajian terkait dengan potensi sumber daya yang masih terkandung dalam sisa pangan, contohnya pada bahan organik yang masih terkandung di dalamnya. Ketika manusia tidak lagi menemukan nilai dari bahan organik pada sisa pangan, ada organisme kecil yang justru melihatnya sebagai sumber kehidupan. Salah satu organisme tersebut adalah maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF). Larva Black Soldier Fly (BSF) memiliki kemampuan mengonversi bahan organik dari sisa pangan menjadi biomassa melalui proses biokonversi. Biomassa tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan sehingga membuka peluang pemanfaatan sisa pangan menjadi produk bernilai guna
Maggot : Si Kecil dengan Potensi Besar
Hermetia illucens atau yang kerap kita sapa sebagai Maggot pada fase larvanya ternyata memiliki kemampuan menarik dalam pengolahan sisa makanan. Larva ini mampu memanfaatkan berbagai bahan organik sebagai sumber nutrisi untuk modal pertumbuhannya, termasuk pada sisa pangan yang ada di sekitar kita. Kemampuan ini dapat dikembangkan sebagai agen biokonversi dalam pengelolaan limbah organik.
Biokonversi adalah proses pemanfaatan organisme hidup untuk mengubah bahan organik menjadi bentuk dengan nilai tambah. Pada budidaya maggot atau larva BSF, larva akan mengonsumsi bahan organik dan memanfaatkannya menjadi dua hasil yang perlu diperhatikan, yakin berkurangnya sebagian bahan organik dan terbentuknya biomassa larva. Hal ini dibuktikan oleh penelitian Muhayyat et al. (2016) , yang menguji tiga jenis media tumbuh untuk BSF, yakni limbah nasi, daun singkong, dan limbah nasi dan daun singkong dengan kadar perbandingan 1:1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran limbah nasi dan daun singkong menghasilkan konsumsi substrat sebesar 65,82% dan Waste Reduction Index (WRI) sebesar 18,02% pada kondisi perlakuan terbaik, yang menunjukkan bahwa komposisi media berpengaruh terhadap efektivitas biokonversi.
Potensi maggot atau larva BSF tidak hanya terletak pada kemampuannya mengonversi limbah organik, tetapi juga pada kualitas biomassa yang dihasilkan. Monita et al. (2017) menunjukkan hal tersebut melalui penelitian pemanfaatan sampah organik sebagai media pertumbuhan larva Black Soldier Fly (BSF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva BSF memiliki kandungan protein berkisar antara 33,31-33,88% dan kandungan lemak sebesar 30,07-34,39%, tetapi kandungan ini dipengaruhi oleh jenis media pakan dan kondisi pembudidayaan. Kandungan nutrisi tersebut menjadikan biomassa larva BSF berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber protein dan lemak alternatif dalam formulasi pakan ternak maupun ikan.
Menariknya, pemanfaatan ini tidak berhenti pada proses pengolahan limbah menjadi pakan. Ternak dan ikan yang memperoleh pakan berbasis biomassa larva BSF atau maggot atau larva BSF selanjutnya dapat menjadi bagian dari rantai pasok pangan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi manusia. Dengan demikian, limbah pangan yang sebelumnya terbuang berpeluang kembali memasuki sistem produksi pangan melalui proses biokonversi. Siklus ini menggambarkan bagaimana pemanfaatan maggot atau larva BSF dapat mendukung penerapan ekonomi sirkular dengan mengembalikan nilai sumber daya ke dalam rantai produksi.
Temuan Muhayyat et al. (2016) dan Monita et al. (2017) menunjukkan bahwa pemanfaatan larva BSF memiliki dua potensi yang saling melengkapi, yaitu mengonversi sebagian limbah organik dan menghasilkan biomassa dengan kandungan nutrisi yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sisa pangan melalui biokonversi tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga memungkinkan pemanfaatan kembali sumber daya yang sebelumnya terbuang. Kemampuan tersebut menjadi dasar bagi pengembangan maggot sebagai komoditas dalam sistem ekonomi sirkular, ketika sisa pangan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Daftar Pustaka :
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2021). Laporan kajian food loss and waste di Indonesia: Dalam rangka mendukung penerapan ekonomi sirkular dan pembangunan rendah karbon. Kementerian PPN/Bappenas.
Monita, L., Sutjahjo, S. H., Amin, A. A., & Fahmi, M. R. (2017). Pengolahan sampah organik perkotaan menggunakan larva black soldier fly (Hermetia illucens). Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management), 7(3), 227–234. https://doi.org/10.29244/jpsl.7.3.227-234
Muhayyat, M. S., Yuliansyah, A. T., & Prasetya, A. (2016). Pengaruh Jenis Limbah Dan Rasio Umpan Pada biokonversi limbah domestik menggunakan larva black soldier fly (Hermetia illucens). Jurnal Rekayasa Proses, 10(1), 23–29. https://journal.ugm.ac.id/jrekpros/article/view/34424
Tanggal Publish
6 Nov 2026
Penulis
Aufa
Artikel lainnya
Dari Ladang ke Konflik: Krisis Pangan di Tengah Perang
Makanan, yang selama ini kita anggap sebagai kebutuhan paling dasar manusia, ternyata sangat rapuh ketika ...

Fenomena Food Waste di Tengah Bulan Ramadhan?
Bulan Ramadhan menjadi bulan yang paling dinanti-nanti oleh semua orang di seluruh dunia, termasuk di ...

Mengelola Sampah Makanan: Apakah Negara Takut Kehilangan Modal Politik?
Makanan sisa katering. sumber: stock.adobe.com Pembahasan mengenai sampah makanan sering kali ditempatkan dalam ranah teknis ...

Mungkinkah bagi Masyarakat Indonesia untuk Kenyang Tanpa Nasi?
Padi. Sumber: unsplash.com Makanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia. Segala aktivitas ...



